Kamis, 21 Juni 2012


MODEL KEPERAWATAN MENURUT HILDEGARD PEPLAU

Teori Peplau

Model konsep dan teori keperawatan yang dijelaskan oleh Peplau menjelaskan tentang kemampuan dalam memahami diri sendiri dan orang lain yang menggunakan dasar hubungan antar manusia yang mencakup 4 komponen sentral yaitu klien, perawat, masalah kecemasan yang terjadi akibat sakit (sumber kesulitan), dan proses interpersonal.

Klien.

Sistem dari yang berkembang terdiri dari karakteristik biokimia, fisiologis, interpersonal dan kebutuhan serta selalu berupaya memenuhi kebutuhannya dan mengintegrasikan belajar pengalaman. Klien adalah subjek yang langsung dipengaruhi. .Oleh adanya proses interpersonal.

Perawat

Perawat berperan mengatur tujuan dan proses interaksi interpersonal dengan pasien yang bersifat partisipatif, sedangkan pasien mengendalikan isi yang menjadi tujuan. Hal ini berarti dalam hubungannya dengan pasien, perawat berperan sebagai mitra kerja, pendidik, narasumber, pengasuh pengganti, pemimpin dan konselor sesuai dengan fase proses interpersonal.

Pendidikan atau pematangan tujuan yang dimaksud untuk meningkatkan gerakan yang progresif dan kepribadian seseorang dalam berkreasi, membangun, menghasilkan pribadi dan cara hidup bermasyarakat.

Perawat mempunyai 6 peran sebagai berikut :

  1. Mitra kerja, berbagi rasa hormat dan minat yang positif pada pasien. Perawat menghadapi klien seperti tamu yang dikenalkan pada situasi baru. Sebagai mitra kerja, Hubungan P-K merupakan hubungan yang memerlukan kerha sama yang harmonis atas dasar kemitraan sehingga perlu dibina rasa saling percaya, saling mengasihi dan menghargai.

  2. Nara sumber (resources person) memberikan jawaban yang spesifik terhadap pertanyaan tentang masalah yang lebih luas dan selanjutnya mengarah pada area permasalahan yang memerlukan bantuan. perawat mampu memberikan informasi yang akurat, jelas dan rasional kepada klien dalam suasana bersahabat dan akrab.

  3. Pendidik (teacher) merupakan kombinasi dari semua peran yang lain. Perawat harus berupaya memberikan pendidikan, pelatihan, dan bimbingan pada klien/keluarga terutama dalam megatasi masalah kesehatan.

  4. Kepemimpinan (leadership) mengembangkan hubungan yang demokratis sehingga merangsang individu untuk berperan. Perawat harus mampu memimpin klien/keluarga untuk memecahkan masalah kesehatan melalui proses kerja sama dan partisipasi aktif klien.

  5. Perngasuh pengganti (surrogate) membantu individu belajar tentang keunikan tiap manusia sehingga dapat mengatasi konflik interpersonal. Perawat merupakan individu yang dipercaya klien untuk berperan sebagai orang tua, tokoh masyarakat atau rohaniawan guna membantu memenuhi kebutuhannya.

  6. Konselor (consellor) meninhgkatkan pengalaman individu menuju keadaan sehat yaitu kehidupan yang kreatif, konstruktif dan produktif. Perawat harus dapat memberikan bimbingan terhadap masalah klien sehingga pemecahan masalah akan mudah dilakukan.

Sumber kesulitan

Ansietas berat yang disebabkan oleh kesulitan mengintegrasikan pengalaman interpersonal yang lalu dengan yang sekarang ansietas terjadi apabila komunikasi dengan orang lain mengancam keamanan psikologi dan biologi individu. Dalam model peplau ansietas merupakan konsep yang berperan penting karena berkaitan langsung dengan kondisi sakit. Dalam keadaan sakit biasanya tingkat ansietas meningkat. Oleh karena itu perawat pada saat ini harus mengkaji tingkat ansietas klien. Berkurangnya ansietas menunjukkan bahwa kondisi klien semakin membaik.

Proses Interpersonal

Dalam ilmu komunikasi, proses interpersonal didefinisikan sebagai proses interaksi secara simultan dengan orang lain dan saling pengaruh-mempengaruhi satu dengan lainnya, biasanya dengan tujuan untuk membina suatu hubungan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka proses interpersonal yang dimaksud antara perawat dan klien ini menggambarkan metode transpormasi energi atau ansietas klien oleh perawat yang terdiri dari 4 fase yaitu :

1.Fase orientasi

Lebih difokuskan untuk membantu pasien menyadari ketersediaan bantuan dan rasa percaya terhadap kemampuan perawat untuk berperan serta secara efektif dalam pemberian askep pada klien. Tahap ini ditandai dimana perawat melakukan kontrak awal untuk membangun kepercayaan dan terjadi pengumpulan data.


2. Fase identifikasi

Terjadi ketika perawat memfasilitasi ekspresi perilaku pasien dan memberikan asuhan keperawatan yang tanpa penolakan diri perawat memungkinkan pengalaman menderita sakit sebagai suatu kesempatan untuk mengorientasi kembali perasaan dan menguatkan bagian yang positif dan kepribadian pasien. Respon pasien pada fase identifikasi dapat berupa :


1.Partisipan mandiri dalam hubungannya dengan perawat.

2. Individu mandiri terpisah dari perawat.

3. Individu yang tak berdaya dan sangat tergantung pada perawat.


3. Fase eksplorasi

Memungkinkan suatu situasi dimana pasien dapat merasakan nilai hubungan sesuai pandangan/persepsinya terhadap situasi. Fase ini merupakan inti hubungan dalam proses interpersonal. Dalam fase ini perawat membantu klien dalam memberikan gambaran kondisi klien dan seluruh aspek yang terlibat didalamnya.


4. Fase resolusi

Secara bertahap pasien melepaskan diri dari perawat. Resolusi ini memungkinkan penguatan kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan menyalurkan energi kea rah realisasi potensi.


Keempat fase tersebut merupakan rangkaian proses pengembangan dimana perawat membimbing pasien dari rasa ketergantungan yang tinggi menjadi interaksi yang saling tergantung dalam lingkungan sosial. Artinya seorang perawat berusaha mendorong kemandirian pasien.

Pemaparan ini menunjukkan bahwa teori Hildegard E. Peplau(1952) berfokus pada individu, perawat dan proses interaktif yang menghasilkan hubungan antara perawat dan klien. Berdasarkan teori ini klien adalah individu dengan kebutuhan perasaan, dan keperawatan adalah proses interpersonal dan terapeutik. Artinya suatu hasil proses kerja sama manusia dengan manusia lainnya supaya menjadi sehat atau tetap sehat (hubungan antar manusia). Tujuan keperawatan adalah untuk mendidik klien dan keluarga dan untuk membantu klien mencapai kematangan perkembangan kepribadian. Oleh sebab itu, perawat berupaya mengembangkan hubungan perawat dan klien melalui peran yang diembannya (nara sumber, konselor, dan wali).

Adapun kerangka kerja praktik dari teori Peplau memaparkan bahwa keperawatan adalah proses yang penting, terapeutik, dan interpersonal. Keperawatan berpartisipasi dalam menyusun struktur system asuhan kesehatan untuk menfasilitasi kondisi yang alami dari kecenderungan manusia untuk mengembangkan hubungan interpersonal.

Implementasi Teori Peplau

Pada awalnya, Peplau mengembangkan teorinya sebagai bentuk keprihatinannya terhadap praktik keperawatan “Custodial Care”, sehingga sebagai perawat jiwa, melalui tulisannya ia kemudian mempublikasikan teorinya mengenai hubungan interpersonal dalam keperawatan. Dimana dalam memberikan asuhan keperawatan ditekankan pada perawatan yang bersifat terapeutik.

Aplikasi yang dapat kita lihat secara nyata yaitu pada saat klien mencari bantuan, pertama perawat mendiskusikan masalah dan menjelaskan jenis pelayanan yang tersedia. Dengan berkembangnya hubungan antara perawat dan klien bersama-sama mendefinisikan masalah dan kemungkinan penyelesaian masalahnya. Dari hubungan ini klien mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan pelayanan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhannya dan perawat membantu klien dalam hal menurunkan kecemasan yang berhubungan dengan masalah kesehatannya.

Teori peplau merupakan teori yang unik dimana hubungan kolaborasi perawat klien membentuk suatu “kekuatan mendewasakan” melalui hubugan interpersonal yang efektif dalam membantu pemenuhan kebutuhan klien. Ketika kebutuhan dasar telah diatasi, kebutuhan yang baru mungkin muncul. Hubungan interpesonal perawat klien digambarkan sebagai fase-fase yang saling tumpang tindih seperti berikut ini orientasi, identifikasi, penjelasan dan resolusi.

Teori dan gagasan Peplau dikembangkan untuk memberikan bentuk praktik keperawatan jiwa. Penelitian keperawatan tentang kecemasan, empati, instrument perilaku, dan instrument untuk mengevaluasi respon verbal dihasilkan dari model konseptual Peplau.

Kesimpulan

Teori Hildegard Peplau (1952) berfokus pada individu, perawat, dan proses interaktif (Peplau, 1952) yang menghasilkan hubungan antara perawat dan klien (Torres, 1986). Berdasarkan teori ini klien adalah individu dengan kebutuhan perasaan, dan keperawatan adalah proses interpersonal dan terapeutik. Tujun keperawatan adalah untuk mendidik klien dan keluarga dan unutuk membantu klien mencapai kemantapan pengembangan kepribadian (Chinn dan Jacobs, 1995). Teori dan gagasan Peplau dikembangkan untuk memberikan bentuk praktik keperawatan jiwa. Oleh sebab itu perawat berupaya mengembangkan hubungan antara perawat dank lien dimana perawat bertugas sebagai nara sumber, konselor, dan wali.

 

Rabu, 20 Juni 2012


GERAKAN SHALAT BERMANFAAT UNTUK KESEHATAN TUBUH
Shalat ternyata tidak hanya menjadi amalan utama di akhirat nanti, tetapi gerakan-gerakan shalat paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Bahkan dari sudut medis, shalat adalah gudang obat dari berbagai jenis pnyakit.
Allah, Sang Maha Pencipta, tahu persis apa yang sangat dibutuhkan oleh ciptaanNya, khususnya manusia. Semua perintahNya tidak hanya bernilai ketakwaan, tetapi juga mempunyai manfaat besar bagi tubuh manusia itu sendiri. Misalnya, puasa, perintah Allah di rukun Islam ketiga ini sangat diakui manfaatnya oleh para medis dan ilmuwan dunia barat. Mereka pun serta merta ikut berpuasa untuk kesehatan diri dan pasien mereka.
Begitu pula dengan shalat. Ibadah shalat merupakan ibadah yang paling tepat untuk metabolisme dan tekstur tubuh manusia. Gerakan-gerakan di dalam shalat pun mempunyai manfaat masing-masing. Misalnya:

Takbiratul Ihram
Berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar tlinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah. Gerakan ini bermanfaat untuk melancarkan aliran darah, getah bening (limfe), dan kekuatan otot lengan. Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancer ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancer. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.

Ruku’
Ruku’ yang sempurna ditandai tulang belakang yang lurus sehingga bila diletakkan segelas air di atas punggung tersebut tak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang. Gerakan ini bermanfaat untuk menjaga kesempurnaan posisi serta fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat saraf. Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah. Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi untuk merelaksasikan otot-otot bahu hingga ke bawah. Selain itu, rukuk adalah sarana latihan bagi kemih sehingga gangguan prostate dapat dicegah.

I’tidal
Bangun dari ruku’, tubuh kembali tegak setelah mengangkat kedua tangan setinggi telinga. I’tidal merupakan variasi dari postur setelah ruku’ dan sebelum sujud. Gerakan ini bermanfaat sebagai latihan yang baik bagi organ-organ pencernaan. Pada saat I’tidal dilakukan, organ-organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Tentu memberi efek melancarkan pencernaan.

Sujud
Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai. Posisi sujud berguna untuk memompa getah bening ke bagian leher dan ketiak. Posis jantung di atas otak menyebabkan daerah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Oleh karena itu, sebaiknya lakukan sujud dengan tuma’ninah, tidak tergesa-gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Posisi seperti ini menghindarkan seseorang dari gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik ruku’ maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.

Duduk di antara sujud
Duduk setelah sujud terdiri dari dua macam yaitu iftirosy (tahiyat awal) dan tawarru’ (tahiyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki. pada saat iftirosy, tubuh bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan saraf nervus Ischiadius. Posisi ini mampu menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarru’ sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (uretra), kelenjar kelamin pria (prostate) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan dengan benar, posisi seperti ini mampu mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarru’ menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.

Salam
Gerakan memutar kepala ke kanan dank e kiri secara maksimal. Salam bermanfaat untuk bermanfaat untuk merelaksasikan otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala sehingga mencegah sakit kepala serta menjaga kekencangan kulit wajah.
Gerakan sujud tergolong unik. Sujud memiliki falsafah bahwa manusia meneundukkan diri serendah-rendahnya, bahkan lebih rendah dari pantatnya sendiri. Dari sudut pandang ilmu psikoneuroimunologi (ilmu mengenai kekebalan tubuh dari sudut pandang psikologis) yang di dalami Prof. Soleh, gerakan ini mengantarkan manusia pada derajat setinggi-tingginya. Mengapa?
Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan oksigen. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tuma’ninah dan kontinu dapat memicu peningkatan kecerdasan seseorang.
Setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara normal. Darah tidk akan memasuki urat saraf di dalam otak melainkan ketika seseorang sujud dalam shalat. Urat saraf tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini berarti, darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikuti waktu shalat, sebagaimana yang telah diwajibkan dalam Islam.
Riset di atas telah mendapat pengakuan dari Harvard University, Amerika Serikat. Bahkan seorang dokter berkebangsaan Amerika yang tak dikenalnya menyatakan diri masuk Islam setelah diamdiam melakukan riset pengembangan khusus mengenai gerakan sujud. Di samping itu, gerakan-gerakan dalam shalat sekilas mirip gerakan yoga ataupun peregangan (stretching). Intinya, berguna untuk melenturkan tubuh dan melancarkan peredaran darah. Keunggulan shalat dibandingkan gerakan lainnya adalah di dalam shalat kita lebih banyak menggerakkan anggota tubuh, termasuk jari-jari kaki dan tangan.
Sujud adalah latihan kekuatan otot tertentu, termasuk otot dada. Saat sujud, beban tubuh bagian atas ditumpukan pada lengan hingga telapak tangan. Saat inilah kontraksi terjadi pada otot dada, bagian tubuh yang menjadi kebanggan wanita. Payudara tak hanya menjadi lebih indah bentuknya tetapi juga memperbaiki fungsi kelenjar air susu di dalamnya.
Masih dalam posisi sujud, manfaat lain yang bisa dinikmati kaum hawa adalah otot-otot perut (rectus abdominis dan obliqus abdominis externus) berkontraksi penuh saat pinggul serta pinggang terangkat melampaui kepala dan dada. Kondisi ini melatih organ di sekitar perut untuk mengejan lebih dalam dan lebih lama yang membantu dalam proses persalinan. Karena di dalam persalinan dibutuhkan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang mencukupi. Bila otot perut telah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, maka secara alami, otot ini justru menjadi elastis. Kebiasaan sujud menyebabkan tubuh dapat mengembalikan dan mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali (fiksasi).
Setelah melakukan sujud, kita melakukan gerakan duduk. Dalam shalat terdapat dua jenis duduk: iftirosy (tahiyat awal) dan tawaru’ (tahiyat akhir). Hal terpenting adalah turut berkontraksinya otot-otot daerah perineum. Bagi wanita, di daerah ini terdapat tiga liang yaitu liang persenggamaan, dubur untuk melepas kotoran, dan saluran kemih. Saat tawarru’, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Punggung kaki harus diletakkan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Pada posisi ini tumit kaki kiri akan memijit dan menekan daerah perineum. Tekanan lembut inilah yang memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.
Pada dasarnya, seluruh gerakan shalat bertujuan meremajakan tubuh. Jika tubuh lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Apalagi jika dilakukan secara rutin, maka sel-sel yang rusak dapat segera tergantikan. Regenerasi pun berlangsung dengan lancar. Alhasil, tubuh senantiasa bugar.
Menuru penelitian Prof. Dr. Muhammad Soleh dalam desertasinya yang berjudul “Pengaruh Shalat Tahajud terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Neuroimunologi” dengan desertasi itu, Soleh berhasil meraih gelar doctor dalam bidang ilmu kedokteran pada program pasca sarjana Universitas Surabaya yang dipertahankannya beberapa waktu lalu.
Shalat tahajud ternyata bukan hanya sekedar shalat tambahan (sunah muakkad), tetapi jika dilakukan secara rutin dan ikhlas akan bisa mengatasi penyakit kanker. Secara medis, shalat tahajud mampu menumbuhkan respons ketahanan tubuh (imunologi) khususnya pada imunoglobin M, G, A, dan limfositnya yang berupa persepsi serta motivasi positif. Selain itu, juga dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi.
Selama ini, ulama melihat ikhlas hanya sebagai persoalan mental psikis. Namun, sebetulnya permasalahan ini dapat dibuktikan dengan teknologi kedokteran. Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol dengan parameter kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah kortisol pada pagi hari normalnya antra 38-690 nmol/liter. Sedangkan pada malam hari atau setelah pukul 24.00, jumlah ini meningkat menjadi 69-345 nmol/liter.
“Kalau jumlah hormone kortisolnya normal, dapat diindikasikan bahwa orang tersebut tidak ikhlas karena merasa tertekan. Demikian juga sebaliknya,” ujarnya seraya menegaskan temuannya ini membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama Islam semata-mata dogma atau doktrin.
Menurut Dr. Soleh, orang stress biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan melakukan tahajud secara rutin dan disertai perasaan ihklas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respon imun yang baik serta besar kemungkinan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Berdasarkan perhitungan medis, shalat tahajud yang demikian menyebabkan seseorang memiliki ketahanan tubuh yang baik.

Sumber: Eramuslim



Senin, 18 Juni 2012


 Sistem Pencernaan
            Saluran pencernaan manusia memiliki panjang sekitar 9,5 meter, dari mulut hingga anus. Makanan membutuhkan waktu 24 jam atau lebih untuk dapat melewatinya. Saluran pencernaan meliputi alat-alat pencernaan dan organ-organ penghasil getah penernaan. Alat-alat pencernaan makanan manusia terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus kecil, usus besar, rektum dan anus. Sementara itu, organ penghasil getah pencernaan terdiri atas pankreas dan hati.
            Sistem pencernaan didefinisikan sebagai suatu sistem yang bertujuan untuk memecah bahan makanan menjadi struktur yang lebih sederhana sehingga dapat diserap oleh sel-sel tubuh. Secara umum terdapat 2 macam proses pencernaan yaitu :
1.      Pencernaan mekanis yaitu proses pencernaan yang melibatkan beberapa gerakan otot seperti gerakan mnegunyah dan gerak peristalsis.  contoh proses pencernaan mekanis antara lain : mengunyah makanan oleh gigi dengan dibantu lidah serta peremasan yang terjadi di lambung.   
2.      Pencernaan kimiawi yaitu proses pemecahan bahan makanan dengan enzim-enzim pencernaan  yang berasal dari kelenjar pencernaan. Yaitu pelarutan dan pemecahan makanan oleh enzim-enzim pencernaan dengan mengubah makanan yang bermolekul besar menjadi molekul yang berukuran kecil.

Secara sederhana, sistem pencernaan makanan terdiri dari 4 tahap. Empat tahap dalam sistem pencernaan tersebut antara lain:
1.      Penelanan (Ingesti) : pemasukan makanan ke dalam tubuh melalui mulut
2.      Pencernaan (digesti) : proses mekanik dan kimia untuk merubah nutrient menjadi bentuk yang mudah diabsorbsi. Proses dalam digesti adalah : mengunyah, menelan dan gerakan peristaltik.
3.      Penyerapan (absorpsi) : proses dari hasil akhir pencernaan mulai usus halus dan usus besar ke dalam darah atau sistem getah bening.
4.      Pembuangan (eliminasi ) : mengeksresi sisa-sisa makanan sampai yang melalui beberapa proses, mulai dari masuknya makanan ke dalam mulut hingga mengeluarkannya dalam bentuk feses.


a.       Rongga Mulut (Kavum Oris)
Pencernaan makanan dimulai bersamaan dengan dimasukkannya makanan ke dalam rongga mulut. Di dalam mulut terjadi proses pencernaan, baik secara fisik maupun secara kimia. Mulut dilengkapi dengan organ-organ pencernaan yaitu gigi, lidah dan bibir. Gigi berfungsi untuk menghancurkan makanan secara mekanis dengan pengunyahan. Manusia hanya memiliki dua susunan gigi selama hidupnya. Susunan gigi yang pertama disebut gigi susu, terdiri atas 20 gigi. Gigi susu pertama kali tumbuh pada bayi berumur sekitar 6-8 bulan dan menjadi lengkap setelah umur 2 tahun. Gigi susu mulai tanggal dan digantikan oleh gigi tetap pada anak berumur sekitar 6-7 tahun. Susunan gigi tetap terdiri atas 32 gigi.
Sebuah gigi tersusun atas dua bagian, yaitu mahkota (di atas gusi) dan akar (di dalam gusi). Mahkota gigi dilapisi oleh email. Di bawah email terdapat dentin, yang sekeras tulang. Dibawah dentin terdapat rongga gigi yang berisi pembuluh darah dan saraf.
Lidah berfungsi merasakan rasa makanan, untuk mencampur makanan yang sedang dikunyah, serta untuk membantu proses penelanan. Pada permukaan lidah yang kasar terdapat ribuan kuncup pengecap yang membuat kita dapat merasakan manisnya gula atau asinnya garam. Kunsup pengecap itu terdapat pada ujung papillae lidah. Bibir berfungsi untuk menahan makanan agar tidak tumpah. Pada bayi, bibir berfungsi untuk menghisap susu.
Di dalam rongga mulut juga terdapat tiga pasang kelenjar saliva atau ludah, yaitu kelenjar parotis (di bawah telinga), kelenjar sublingua (di bawah lidah), kelenjar submandibular (dibawah rahang bawah). Fungsi saliva adalah untuk membasahi makanan sehingga musah dicerna. Di dalam saliva juga terdapat enzim ptealin atau enzime amilase yang berfungsi memecah amilum menjadi maltosa. Selain itu, di dalam saliva juga terdapat immunoglobulin A yang berfungsi menurunkan jumlah bakteri yang masuk ke mulut. Sekresi saliva dapat dirangsang oleh penglihatan, bau atau bahkan pikiran tentang makanan.






b.      Kerongkongan (Esofagus)
Setelah makanan dikunyah di dalam mulut dan bercampur dengan saliva, makanan itu disebut bolus. Selanjutnya, bolus akan ditelan dan berjalan menuju esofagus atau kerongkongan. Di dalam kerongkongan tidak terjadi poses pencernaan, kalaupun ada sifatnya hanya meneruskan pencernaan enzimatis yang terjadi di mulut. Di dalam kerongkongan, bolus di dorong masuk ke lambung dengna gerak peristaltik.
c.       Lambung (Ventrikulus)
Lambung adalah suatu kantong penyimpanan makanan berbentuk huruf J. Pada perbatasan esofagus  dengan lambung terdapat otot sfingter yang berfungsi membuka dan menutup mulut lambung. Saat makanan telah memasuki lambung, otot ini akan berkontraksi menutup lubang sfingter sehingga makanan tidak kembali lagi ke esofagus.
Lambung terbagi atas tiga bagian, berturut-turut dari bagian terdepan, yaitu kardiak, fundus, dan pilorus. Dinding lambung tersusun atas otot yang kuat. Otot tersebut mengaduk dan mencampur bolus dengan getah lambung yang disekresi oleh sel-sel kelenjar di dinding lambung. Getah lambung, berperan dalam pencernaan secara kimia dan terdiri atas asam klorida (HCl), enzim pepsin, serta enzim renin.
Asam klorida merupkan asam kuat yang berperan mengubah pepsinogen menjadi pepsin. Pepsinogen adalah bentuk enzim pepsin yang belum aktif. Selain itu, asam klorida juga dapat membunuh kuman yang masuk bersama makanan. Asam klorida menyebabkan pH lambung menjadi rendah (asam) sehingga di lambung tidak ada pencernaan karbohidrat.
Pepsin merupakan enzim yang bekerja mencerna protein menjadi polipeptida pendek. Adapun renin berfungsi mengendapkan protein susu (kasein) dari susu. Tanpa adanya renin, kasein tidak dapat dicerna sehingga lewat begitu saja.
Pencernaan kimia di lambung juga dibantu oleh adanya gerakan peristaltik lambung yang berperan dalam mencampur makanan sehingga pencernaan menjadi lebih optimal. Makanan yang telah mengalami pencernaan di lambung bercampur dengan getah lambung dan berubah menjadi semacam bubur yang disebut kim (chyme).

d.      Usus Halus (Intestinum)
Dari lambung, makanan (dalam bentuk kim) akan diteruskan ke dalam usus halus. Masuknya kim ke usus halus diatur oleh otot sfingter pilorus. Panjang usus halus pada orang dewasa adalah sekitar 5,5-7 m dengan diameter sekitar 2,5 cm. Usus halus terdiri atas 3 bagian, yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejenum), dan usus penyerapan (ileum). Di dalam usus halus terjadi sebagian besar pencernaan secara kimia karena dari dindingnya disekresi getah-getah pencernaan. Getah-getah pencernaan tersebut berasal dari pankreas dan hati.
Hati juga berperan penting dalam sistem pencernaan makanan. Peranan hati, antara lain menghasilkan cairan empedu (bilus) untuk mengakumulasikan lemak, mengubah kelebihan glukosa menjadi glikogen dan menyimpanannya sebagai cadangan energi, mengubah kelebihan asam amino menjadi urea, menyimpan zat besi dan vitamin tertentu, serta menawarkan racun dan zat lain yang berbahaya bagi tubuh. Bilus adalah cairan berwarna hijau kekuningan yang mengandung air, garam-garam empedu, zat warna empedu (bilirubin dan biliverdin), kolestrol, dan elektrolit-elektrolit.
Tiga puluh sentimeter pertama usus halus merupakan usus dua belas jari atau duodenum. Didalam duodenum bermuara getah-getah pencernaan yang berasal dari pankreas dan hati. Di dalam duodenum, lemak yang telah diemulsikan ini selanjutnya akan dicerna oleh enzim lipase, yaitu enzim pencerna lemak, yang dihasilkan pankreas. Hasil pencernaan lemak adalah asam lemak dan gliserol. Asam lemak dan gliserol akan diserap aleh pembuluh linfa atau pembuluh kil di dalam usus halus.
Pankreas menghasilkan enzim amilase, tripsin, dan kimotripsin. Amilase akan memecah polisakarida (amilum) menjadi disakarida (maltosa). Tripsin dan kimotripsin akan mencerna polipeptida (protein) menjadi di peptida. Pankreas juga menghasilkan natrium bikarbonat (bersifat basa/alkali) yang berfungsi untuk menetralkan kim dari lambung yang bersifat asam (pH rendah).
Di dala jejunum juga terjadi pencernaan enzimatis yang merupakan kalanjutan kerja pencernaan usus dua belas jari yang belum tuntas. Enzim-enzim pencernaannya dihasilkan oleh dinding jejunum sendiri. Enzim-enzim yang dihasilkan, antara lain disakaridase(mlatase, laktase, sukrase), aminopeptidase, dipeptidase, dan enterokinase. Maltase akan memecah maltosa menjadi dua molekul glukosa. Sukrase memecah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Laktase akan memecah lactosa menjadi galaktosa dan glukosa. Dipeptidase dan aminopeptidase akan memecah dipeptida asam amino. Adapun enterokinase berfungsi untuk mengaktifkan tripsinogen menjadi tripsin.
Di dalam ileum terjadi penyerapan zat-zat makanan. Zat-zat makanan yang diserap adalah yang sudah berubah monomer atau molekul sederhana, misalnya glukosa, fruktosa, galaktosa, asam amino, vitamin, dan beberapa mineral. Semua zat makanan ini diserap oleh kapiler darah. Sementara itu, asam lemak dan gliserol diangkut oleh pembuluh limfa.
Pada permukaan dalam usus halus terdapat banyak sekali lipatan dengan jutaan tonjolan seperti jari sepanjang 0.02 inchi, yang disebut jonjot (vili). Pada tiap-tiap sel epitelvili juga terdapat ribuan mikrovili. Adanya vili dan mikrovili meningkatan luas permukaan usus sekitar 600 kali sehingga meningkatkan proses absorbsi.
Dinding usus halus memiliki dua lapis otot polos. Otot tersebut mendorong makanan yang tidak tercerna masuk ke dalam usus besar dengan gerakan peristaltik lambat. Seluruh proses yang terjadi di dalam usus halus memakan waktu lebih kurang enam jam.



 

e.       Usus Besar (Kolon)
Sisa-sisa pencernaan makanan yang tidak terserap oleh usus halus akan diteruskan ke usus besar. Usus besar merupakan bagian terakhir saluran pencernaan manusia. Panjangnya  hanya sekitar 1,5-2 m dengan diameter 5-8 cm. Usus besar terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian yang naik (askenden), mendatar (transkenden), menurun (deskenden). Pada pertumuan antara usus halus dan usus besar terdapat usus buntu (sekum) dan umbai cacing (apendiks). Peranan usus besar cukup penting, yaitu untuk memproses sisa-sisa makanan agar mudah dikeluarkan. Di dalam usus besar, terdapat banyak sekali bakteri pembusuk yang akan membusukan sisa-sisa makanan menjadi feses yang lunak dan mudah dikeluarkan. Beberapa bakteri ini juga diketahui dapat menghasilkan vitamin K dan asam amino tertentu yang dapat diserap oleh dinding usus untuk digunakan oleh tubuh. Selain itu, jika tubuh kekurangan air, akan terjadi reabsorbsi air oleh kolon ini.



f.       Rektum dan Anus
Rektum merupakan bagian akhir dari usus besar. Di dalam rektum sudah tidak terjadi penyerapan apapun. Rektum merupakan tempat penampungan sementara sisa pencernaan sebelum dikeluarkan melalui lubang pengeluaran yang disebut anus. Antara rektum dan anus terdapat dua otot sfingter, yang satu bersifat sadar dan yang lainnya bersifat tidak sadar. Sekali atau lebih setiap hari, kontraksi kuat usus besar akan menciptakan dorongan untuk buang hajat (defekasi)


 Kelainan atau Gangguan pada Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan makanan manusia tidak selamanya dapat berjalan dengan normal, kadang kala dapat mengalami gangguan, baik yang disebabkan oleh makanan yang dimakan, penyakit, ataupun gangguan fisiologis yang dimiliki oleh seseorang. Beberapa gangguan pada pencernaan makanan yang dapat terjadi pada manusia, antara lain sakit gigi, sakit maag, apenditis, konstipasi, laktosa intoleran, dan diare.

a.       Sakit gigi
Sisa-sisa makanan yang melekat pada gigi merupakan tempat yang baik untuk pertumbuhan bakteri yang dapat merusak gigi. Kerusakan gigi dapat pula terjadi karena makanan yang terkena panas, terlalu dingin, terlalu manis atau terlalu asam. Semua itu dapat menyebabkan gigi menjadi keropos dan mudah sakit. Gigi yang sakit menyebabkan aktivitas mengunyah makanan tidak dapat dilakukan dengan baik sehingga pencernaan makanan makanan di lambung dan usus juga tidak bisa dilakukan dengan optimal.

b.      Sakit Maag
Sakit Maag merupakan sakit yang disebabkan aleh adanya sekresi asam lambung yang tidak normal pada lambung sehingga mengakibatkan rasa perih pada dingding lambung. Sakit maag dapat dipicu oleh kebiasaan makan yang tidak teratur,  jenis makanan tertentu, obat-obatan atau oleh adanya stres psikologis. Gejala maag yang sudah kronis dapat menyebabkan luka pada dinding lambung. Adanya sekresi asam lambung yang mengenai luka pada lambung menyebabkan rasa perih atau sakit. Sakit maag yang sudah parah dapat menyebabkan pendarahan pada lambung karena luka yang terjadi sudah sampai pada lapisan submukosa yang banyak memiliki pembuluh darah.

c.       Apendisitis (radang usus buntu)
Radang usus buntu terjadi jika ada sisa-sisa makanan yang masuk kedalam usus buntu, tepatnya kedalam umbai cacing. Sisa makanan tersebut terjebak dan tidak dapat keluar dari umbai cacing sehingga lama-kelamaan akan membusuk. Akibatnya, timbul peradangan pada cacing. Orang-orang yang terkena apendisitis biasanya harus di operasi untuk membuang umbai cacing yang membusuk tersebut.

d.      Konstipasi
  Konstipasi adalah gangguan yang terjadi jika feces yang terbentuk keras dan kering sehingga sulit dikeluarkan. Hal itu terjadi karena terlalu banyak air yang direabsorpsi pada saat sisa-sisa makanan berada di usus besar, yang diakibatkan oleh bahan makanan yang rendah kandungan seratnya. Jika terjadi secara terus-menerus, konstipasi dapat menimbulkan wasir atau ambeien.

e.       Laktosa Intoleran
Laktosa adalah karbohidrat yang ada pada susu. Adapun laktosa intoleran merupakan gangguan yang ditandai penderita tidak dapat mencerna laktosa karena tidak tersedianya enzim-enzim pencerna laktosa. Jika itu terjadi, penderita akan mengalami diare jika minum susu.

f.       Diare
Diare merupakan gangguan yang sangat umum, ditandai dengan keluarnya feses yang sangat encer. Diare dapat disebabkan oleh jenis makanan yang dimakan, misalnya terlalu banyak lemaknya, atau oleh adanya infeksi mikroorganisme menghasilkan toksin yang menyebabkan gerak peristaltik usus besar berlangsung sangat cepat sehingga tidak sempat terjadi reabsorpsi air.



Puisi untuk IBU


Ibu...
adalah wanita yang telah melahirkanku
merawatku
membesarkanku
mendidikku
hingga diriku telah dewasa

Ibu...
adalah wanita yang selalu siaga tatkala aku dalam buaian
tatkala kaki-kakiku belum kuat untuk berdiri
tatkala perutku terasa lapar dan haus
tatkala kuterbangun di waktu pagi, siang dan malam

Ibu...
adalah wanita yang penuh perhatian
bila aku sakit
bila aku terjatuh
bila aku menangis
bila aku kesepian

Ibu...
telah kupandang wajahmu diwaktu tidur
terdapat sinar yang penuh dengan keridhoan
terdapat sinar yang penuh dengan kesabaran
terdapat sinar yang penuh dengan kasih dan sayang
terdapat sinar kelelahan karena aku

Aku yang selalu merepotkanmu
aku yang selalu menyita perhatianmu
aku yang telah menghabiskan air susumu
aku yang selalu menyusahkanmu hingga muncul tangismu

Ibu...
engkau menangis karena aku
engkau sedih karena aku
engkau menderita karena aku
engkau kurus karena aku
engkau korbankan segalanya untuk aku

Ibu...
jasamu tiada terbalas
jasamu tiada terbeli
jasamu tiada akhir
jasamu tiada tara
jasamu terlukis indah di dalam surga

Ibu...
hanya do'a yang bisa kupersembahkan untukmu
karena jasamu
tiada terbalas

Hanya tangisku sebagai saksi
atas rasa cintaku padamu

Ibu..., I LOVE YOU SO MUCH
juga kepada Ayah...!!!



Sumber:  http://zahra-sanjaya.blogspot.com/2012/06/puisi-untuk-ibu.html