Senin, 18 Juni 2012


 Sistem Pencernaan
            Saluran pencernaan manusia memiliki panjang sekitar 9,5 meter, dari mulut hingga anus. Makanan membutuhkan waktu 24 jam atau lebih untuk dapat melewatinya. Saluran pencernaan meliputi alat-alat pencernaan dan organ-organ penghasil getah penernaan. Alat-alat pencernaan makanan manusia terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus kecil, usus besar, rektum dan anus. Sementara itu, organ penghasil getah pencernaan terdiri atas pankreas dan hati.
            Sistem pencernaan didefinisikan sebagai suatu sistem yang bertujuan untuk memecah bahan makanan menjadi struktur yang lebih sederhana sehingga dapat diserap oleh sel-sel tubuh. Secara umum terdapat 2 macam proses pencernaan yaitu :
1.      Pencernaan mekanis yaitu proses pencernaan yang melibatkan beberapa gerakan otot seperti gerakan mnegunyah dan gerak peristalsis.  contoh proses pencernaan mekanis antara lain : mengunyah makanan oleh gigi dengan dibantu lidah serta peremasan yang terjadi di lambung.   
2.      Pencernaan kimiawi yaitu proses pemecahan bahan makanan dengan enzim-enzim pencernaan  yang berasal dari kelenjar pencernaan. Yaitu pelarutan dan pemecahan makanan oleh enzim-enzim pencernaan dengan mengubah makanan yang bermolekul besar menjadi molekul yang berukuran kecil.

Secara sederhana, sistem pencernaan makanan terdiri dari 4 tahap. Empat tahap dalam sistem pencernaan tersebut antara lain:
1.      Penelanan (Ingesti) : pemasukan makanan ke dalam tubuh melalui mulut
2.      Pencernaan (digesti) : proses mekanik dan kimia untuk merubah nutrient menjadi bentuk yang mudah diabsorbsi. Proses dalam digesti adalah : mengunyah, menelan dan gerakan peristaltik.
3.      Penyerapan (absorpsi) : proses dari hasil akhir pencernaan mulai usus halus dan usus besar ke dalam darah atau sistem getah bening.
4.      Pembuangan (eliminasi ) : mengeksresi sisa-sisa makanan sampai yang melalui beberapa proses, mulai dari masuknya makanan ke dalam mulut hingga mengeluarkannya dalam bentuk feses.


a.       Rongga Mulut (Kavum Oris)
Pencernaan makanan dimulai bersamaan dengan dimasukkannya makanan ke dalam rongga mulut. Di dalam mulut terjadi proses pencernaan, baik secara fisik maupun secara kimia. Mulut dilengkapi dengan organ-organ pencernaan yaitu gigi, lidah dan bibir. Gigi berfungsi untuk menghancurkan makanan secara mekanis dengan pengunyahan. Manusia hanya memiliki dua susunan gigi selama hidupnya. Susunan gigi yang pertama disebut gigi susu, terdiri atas 20 gigi. Gigi susu pertama kali tumbuh pada bayi berumur sekitar 6-8 bulan dan menjadi lengkap setelah umur 2 tahun. Gigi susu mulai tanggal dan digantikan oleh gigi tetap pada anak berumur sekitar 6-7 tahun. Susunan gigi tetap terdiri atas 32 gigi.
Sebuah gigi tersusun atas dua bagian, yaitu mahkota (di atas gusi) dan akar (di dalam gusi). Mahkota gigi dilapisi oleh email. Di bawah email terdapat dentin, yang sekeras tulang. Dibawah dentin terdapat rongga gigi yang berisi pembuluh darah dan saraf.
Lidah berfungsi merasakan rasa makanan, untuk mencampur makanan yang sedang dikunyah, serta untuk membantu proses penelanan. Pada permukaan lidah yang kasar terdapat ribuan kuncup pengecap yang membuat kita dapat merasakan manisnya gula atau asinnya garam. Kunsup pengecap itu terdapat pada ujung papillae lidah. Bibir berfungsi untuk menahan makanan agar tidak tumpah. Pada bayi, bibir berfungsi untuk menghisap susu.
Di dalam rongga mulut juga terdapat tiga pasang kelenjar saliva atau ludah, yaitu kelenjar parotis (di bawah telinga), kelenjar sublingua (di bawah lidah), kelenjar submandibular (dibawah rahang bawah). Fungsi saliva adalah untuk membasahi makanan sehingga musah dicerna. Di dalam saliva juga terdapat enzim ptealin atau enzime amilase yang berfungsi memecah amilum menjadi maltosa. Selain itu, di dalam saliva juga terdapat immunoglobulin A yang berfungsi menurunkan jumlah bakteri yang masuk ke mulut. Sekresi saliva dapat dirangsang oleh penglihatan, bau atau bahkan pikiran tentang makanan.






b.      Kerongkongan (Esofagus)
Setelah makanan dikunyah di dalam mulut dan bercampur dengan saliva, makanan itu disebut bolus. Selanjutnya, bolus akan ditelan dan berjalan menuju esofagus atau kerongkongan. Di dalam kerongkongan tidak terjadi poses pencernaan, kalaupun ada sifatnya hanya meneruskan pencernaan enzimatis yang terjadi di mulut. Di dalam kerongkongan, bolus di dorong masuk ke lambung dengna gerak peristaltik.
c.       Lambung (Ventrikulus)
Lambung adalah suatu kantong penyimpanan makanan berbentuk huruf J. Pada perbatasan esofagus  dengan lambung terdapat otot sfingter yang berfungsi membuka dan menutup mulut lambung. Saat makanan telah memasuki lambung, otot ini akan berkontraksi menutup lubang sfingter sehingga makanan tidak kembali lagi ke esofagus.
Lambung terbagi atas tiga bagian, berturut-turut dari bagian terdepan, yaitu kardiak, fundus, dan pilorus. Dinding lambung tersusun atas otot yang kuat. Otot tersebut mengaduk dan mencampur bolus dengan getah lambung yang disekresi oleh sel-sel kelenjar di dinding lambung. Getah lambung, berperan dalam pencernaan secara kimia dan terdiri atas asam klorida (HCl), enzim pepsin, serta enzim renin.
Asam klorida merupkan asam kuat yang berperan mengubah pepsinogen menjadi pepsin. Pepsinogen adalah bentuk enzim pepsin yang belum aktif. Selain itu, asam klorida juga dapat membunuh kuman yang masuk bersama makanan. Asam klorida menyebabkan pH lambung menjadi rendah (asam) sehingga di lambung tidak ada pencernaan karbohidrat.
Pepsin merupakan enzim yang bekerja mencerna protein menjadi polipeptida pendek. Adapun renin berfungsi mengendapkan protein susu (kasein) dari susu. Tanpa adanya renin, kasein tidak dapat dicerna sehingga lewat begitu saja.
Pencernaan kimia di lambung juga dibantu oleh adanya gerakan peristaltik lambung yang berperan dalam mencampur makanan sehingga pencernaan menjadi lebih optimal. Makanan yang telah mengalami pencernaan di lambung bercampur dengan getah lambung dan berubah menjadi semacam bubur yang disebut kim (chyme).

d.      Usus Halus (Intestinum)
Dari lambung, makanan (dalam bentuk kim) akan diteruskan ke dalam usus halus. Masuknya kim ke usus halus diatur oleh otot sfingter pilorus. Panjang usus halus pada orang dewasa adalah sekitar 5,5-7 m dengan diameter sekitar 2,5 cm. Usus halus terdiri atas 3 bagian, yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejenum), dan usus penyerapan (ileum). Di dalam usus halus terjadi sebagian besar pencernaan secara kimia karena dari dindingnya disekresi getah-getah pencernaan. Getah-getah pencernaan tersebut berasal dari pankreas dan hati.
Hati juga berperan penting dalam sistem pencernaan makanan. Peranan hati, antara lain menghasilkan cairan empedu (bilus) untuk mengakumulasikan lemak, mengubah kelebihan glukosa menjadi glikogen dan menyimpanannya sebagai cadangan energi, mengubah kelebihan asam amino menjadi urea, menyimpan zat besi dan vitamin tertentu, serta menawarkan racun dan zat lain yang berbahaya bagi tubuh. Bilus adalah cairan berwarna hijau kekuningan yang mengandung air, garam-garam empedu, zat warna empedu (bilirubin dan biliverdin), kolestrol, dan elektrolit-elektrolit.
Tiga puluh sentimeter pertama usus halus merupakan usus dua belas jari atau duodenum. Didalam duodenum bermuara getah-getah pencernaan yang berasal dari pankreas dan hati. Di dalam duodenum, lemak yang telah diemulsikan ini selanjutnya akan dicerna oleh enzim lipase, yaitu enzim pencerna lemak, yang dihasilkan pankreas. Hasil pencernaan lemak adalah asam lemak dan gliserol. Asam lemak dan gliserol akan diserap aleh pembuluh linfa atau pembuluh kil di dalam usus halus.
Pankreas menghasilkan enzim amilase, tripsin, dan kimotripsin. Amilase akan memecah polisakarida (amilum) menjadi disakarida (maltosa). Tripsin dan kimotripsin akan mencerna polipeptida (protein) menjadi di peptida. Pankreas juga menghasilkan natrium bikarbonat (bersifat basa/alkali) yang berfungsi untuk menetralkan kim dari lambung yang bersifat asam (pH rendah).
Di dala jejunum juga terjadi pencernaan enzimatis yang merupakan kalanjutan kerja pencernaan usus dua belas jari yang belum tuntas. Enzim-enzim pencernaannya dihasilkan oleh dinding jejunum sendiri. Enzim-enzim yang dihasilkan, antara lain disakaridase(mlatase, laktase, sukrase), aminopeptidase, dipeptidase, dan enterokinase. Maltase akan memecah maltosa menjadi dua molekul glukosa. Sukrase memecah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Laktase akan memecah lactosa menjadi galaktosa dan glukosa. Dipeptidase dan aminopeptidase akan memecah dipeptida asam amino. Adapun enterokinase berfungsi untuk mengaktifkan tripsinogen menjadi tripsin.
Di dalam ileum terjadi penyerapan zat-zat makanan. Zat-zat makanan yang diserap adalah yang sudah berubah monomer atau molekul sederhana, misalnya glukosa, fruktosa, galaktosa, asam amino, vitamin, dan beberapa mineral. Semua zat makanan ini diserap oleh kapiler darah. Sementara itu, asam lemak dan gliserol diangkut oleh pembuluh limfa.
Pada permukaan dalam usus halus terdapat banyak sekali lipatan dengan jutaan tonjolan seperti jari sepanjang 0.02 inchi, yang disebut jonjot (vili). Pada tiap-tiap sel epitelvili juga terdapat ribuan mikrovili. Adanya vili dan mikrovili meningkatan luas permukaan usus sekitar 600 kali sehingga meningkatkan proses absorbsi.
Dinding usus halus memiliki dua lapis otot polos. Otot tersebut mendorong makanan yang tidak tercerna masuk ke dalam usus besar dengan gerakan peristaltik lambat. Seluruh proses yang terjadi di dalam usus halus memakan waktu lebih kurang enam jam.



 

e.       Usus Besar (Kolon)
Sisa-sisa pencernaan makanan yang tidak terserap oleh usus halus akan diteruskan ke usus besar. Usus besar merupakan bagian terakhir saluran pencernaan manusia. Panjangnya  hanya sekitar 1,5-2 m dengan diameter 5-8 cm. Usus besar terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian yang naik (askenden), mendatar (transkenden), menurun (deskenden). Pada pertumuan antara usus halus dan usus besar terdapat usus buntu (sekum) dan umbai cacing (apendiks). Peranan usus besar cukup penting, yaitu untuk memproses sisa-sisa makanan agar mudah dikeluarkan. Di dalam usus besar, terdapat banyak sekali bakteri pembusuk yang akan membusukan sisa-sisa makanan menjadi feses yang lunak dan mudah dikeluarkan. Beberapa bakteri ini juga diketahui dapat menghasilkan vitamin K dan asam amino tertentu yang dapat diserap oleh dinding usus untuk digunakan oleh tubuh. Selain itu, jika tubuh kekurangan air, akan terjadi reabsorbsi air oleh kolon ini.



f.       Rektum dan Anus
Rektum merupakan bagian akhir dari usus besar. Di dalam rektum sudah tidak terjadi penyerapan apapun. Rektum merupakan tempat penampungan sementara sisa pencernaan sebelum dikeluarkan melalui lubang pengeluaran yang disebut anus. Antara rektum dan anus terdapat dua otot sfingter, yang satu bersifat sadar dan yang lainnya bersifat tidak sadar. Sekali atau lebih setiap hari, kontraksi kuat usus besar akan menciptakan dorongan untuk buang hajat (defekasi)


 Kelainan atau Gangguan pada Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan makanan manusia tidak selamanya dapat berjalan dengan normal, kadang kala dapat mengalami gangguan, baik yang disebabkan oleh makanan yang dimakan, penyakit, ataupun gangguan fisiologis yang dimiliki oleh seseorang. Beberapa gangguan pada pencernaan makanan yang dapat terjadi pada manusia, antara lain sakit gigi, sakit maag, apenditis, konstipasi, laktosa intoleran, dan diare.

a.       Sakit gigi
Sisa-sisa makanan yang melekat pada gigi merupakan tempat yang baik untuk pertumbuhan bakteri yang dapat merusak gigi. Kerusakan gigi dapat pula terjadi karena makanan yang terkena panas, terlalu dingin, terlalu manis atau terlalu asam. Semua itu dapat menyebabkan gigi menjadi keropos dan mudah sakit. Gigi yang sakit menyebabkan aktivitas mengunyah makanan tidak dapat dilakukan dengan baik sehingga pencernaan makanan makanan di lambung dan usus juga tidak bisa dilakukan dengan optimal.

b.      Sakit Maag
Sakit Maag merupakan sakit yang disebabkan aleh adanya sekresi asam lambung yang tidak normal pada lambung sehingga mengakibatkan rasa perih pada dingding lambung. Sakit maag dapat dipicu oleh kebiasaan makan yang tidak teratur,  jenis makanan tertentu, obat-obatan atau oleh adanya stres psikologis. Gejala maag yang sudah kronis dapat menyebabkan luka pada dinding lambung. Adanya sekresi asam lambung yang mengenai luka pada lambung menyebabkan rasa perih atau sakit. Sakit maag yang sudah parah dapat menyebabkan pendarahan pada lambung karena luka yang terjadi sudah sampai pada lapisan submukosa yang banyak memiliki pembuluh darah.

c.       Apendisitis (radang usus buntu)
Radang usus buntu terjadi jika ada sisa-sisa makanan yang masuk kedalam usus buntu, tepatnya kedalam umbai cacing. Sisa makanan tersebut terjebak dan tidak dapat keluar dari umbai cacing sehingga lama-kelamaan akan membusuk. Akibatnya, timbul peradangan pada cacing. Orang-orang yang terkena apendisitis biasanya harus di operasi untuk membuang umbai cacing yang membusuk tersebut.

d.      Konstipasi
  Konstipasi adalah gangguan yang terjadi jika feces yang terbentuk keras dan kering sehingga sulit dikeluarkan. Hal itu terjadi karena terlalu banyak air yang direabsorpsi pada saat sisa-sisa makanan berada di usus besar, yang diakibatkan oleh bahan makanan yang rendah kandungan seratnya. Jika terjadi secara terus-menerus, konstipasi dapat menimbulkan wasir atau ambeien.

e.       Laktosa Intoleran
Laktosa adalah karbohidrat yang ada pada susu. Adapun laktosa intoleran merupakan gangguan yang ditandai penderita tidak dapat mencerna laktosa karena tidak tersedianya enzim-enzim pencerna laktosa. Jika itu terjadi, penderita akan mengalami diare jika minum susu.

f.       Diare
Diare merupakan gangguan yang sangat umum, ditandai dengan keluarnya feses yang sangat encer. Diare dapat disebabkan oleh jenis makanan yang dimakan, misalnya terlalu banyak lemaknya, atau oleh adanya infeksi mikroorganisme menghasilkan toksin yang menyebabkan gerak peristaltik usus besar berlangsung sangat cepat sehingga tidak sempat terjadi reabsorpsi air.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar