Sistem Pencernaan
Saluran pencernaan manusia memiliki
panjang sekitar 9,5 meter, dari mulut hingga anus. Makanan membutuhkan waktu 24
jam atau lebih untuk dapat melewatinya. Saluran pencernaan meliputi alat-alat
pencernaan dan organ-organ penghasil getah penernaan. Alat-alat pencernaan
makanan manusia terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus kecil, usus
besar, rektum dan anus. Sementara itu, organ penghasil getah pencernaan terdiri
atas pankreas dan hati.
Sistem
pencernaan didefinisikan sebagai suatu sistem yang bertujuan untuk memecah
bahan makanan menjadi struktur yang lebih sederhana sehingga dapat diserap oleh
sel-sel tubuh. Secara umum terdapat 2 macam proses pencernaan yaitu :
1. Pencernaan
mekanis yaitu proses pencernaan yang melibatkan beberapa gerakan otot seperti
gerakan mnegunyah dan gerak peristalsis. contoh proses pencernaan mekanis
antara lain :
mengunyah makanan oleh gigi dengan dibantu lidah serta peremasan yang terjadi
di lambung.
2. Pencernaan
kimiawi yaitu proses pemecahan bahan makanan dengan enzim-enzim pencernaan yang berasal dari kelenjar pencernaan. Yaitu
pelarutan dan pemecahan makanan oleh enzim-enzim
pencernaan dengan mengubah makanan yang
bermolekul besar menjadi molekul yang berukuran kecil.
Secara sederhana, sistem pencernaan
makanan terdiri dari 4 tahap. Empat tahap dalam sistem pencernaan tersebut
antara lain:
1. Penelanan
(Ingesti) : pemasukan makanan ke dalam tubuh melalui mulut
2. Pencernaan
(digesti) : proses mekanik dan kimia untuk merubah nutrient menjadi
bentuk yang mudah diabsorbsi. Proses dalam digesti adalah : mengunyah, menelan
dan gerakan peristaltik.
3.
Penyerapan (absorpsi) : proses dari hasil akhir pencernaan mulai usus halus dan usus besar ke dalam darah atau sistem getah bening.
4. Pembuangan
(eliminasi ) : mengeksresi sisa-sisa makanan sampai yang melalui beberapa
proses, mulai dari masuknya makanan ke dalam mulut hingga mengeluarkannya dalam
bentuk feses.
a. Rongga Mulut (Kavum Oris)
Pencernaan
makanan dimulai bersamaan dengan dimasukkannya makanan ke dalam rongga mulut.
Di dalam mulut terjadi proses pencernaan, baik secara fisik maupun secara
kimia. Mulut dilengkapi dengan organ-organ pencernaan yaitu gigi, lidah dan
bibir. Gigi berfungsi untuk menghancurkan makanan secara mekanis dengan
pengunyahan. Manusia hanya memiliki dua susunan gigi selama hidupnya. Susunan
gigi yang pertama disebut gigi susu, terdiri atas 20 gigi. Gigi susu pertama
kali tumbuh pada bayi berumur sekitar 6-8 bulan dan menjadi lengkap setelah
umur 2 tahun. Gigi susu mulai tanggal dan digantikan oleh gigi tetap pada anak
berumur sekitar 6-7 tahun. Susunan gigi tetap terdiri atas 32 gigi.
Sebuah
gigi tersusun atas dua bagian, yaitu mahkota (di atas gusi) dan akar (di dalam
gusi). Mahkota gigi dilapisi oleh email. Di bawah email terdapat dentin, yang
sekeras tulang. Dibawah dentin terdapat rongga gigi yang berisi pembuluh darah
dan saraf.
Lidah
berfungsi merasakan rasa makanan, untuk mencampur makanan yang sedang dikunyah,
serta untuk membantu proses penelanan. Pada permukaan lidah yang kasar terdapat
ribuan kuncup pengecap yang membuat kita dapat merasakan manisnya gula atau
asinnya garam. Kunsup pengecap itu terdapat pada ujung papillae lidah. Bibir
berfungsi untuk menahan makanan agar tidak tumpah. Pada bayi, bibir berfungsi
untuk menghisap susu.
Di
dalam rongga mulut juga terdapat tiga pasang kelenjar saliva atau ludah, yaitu
kelenjar parotis (di bawah telinga), kelenjar sublingua (di bawah lidah),
kelenjar submandibular (dibawah rahang bawah). Fungsi saliva adalah untuk
membasahi makanan sehingga musah dicerna. Di dalam saliva juga terdapat enzim
ptealin atau enzime amilase yang berfungsi memecah amilum menjadi maltosa.
Selain itu, di dalam saliva juga terdapat immunoglobulin A yang berfungsi
menurunkan jumlah bakteri yang masuk ke mulut. Sekresi saliva dapat dirangsang
oleh penglihatan, bau atau bahkan pikiran tentang makanan.
b. Kerongkongan (Esofagus)
Setelah
makanan dikunyah di dalam mulut dan bercampur dengan saliva, makanan itu
disebut bolus. Selanjutnya, bolus akan ditelan dan berjalan menuju esofagus
atau kerongkongan. Di dalam kerongkongan tidak terjadi poses pencernaan,
kalaupun ada sifatnya hanya meneruskan pencernaan enzimatis yang terjadi di
mulut. Di dalam kerongkongan, bolus di dorong masuk ke lambung dengna gerak
peristaltik.
c. Lambung (Ventrikulus)
Lambung
adalah suatu kantong penyimpanan makanan berbentuk huruf J. Pada perbatasan
esofagus dengan lambung terdapat otot
sfingter yang berfungsi membuka dan menutup mulut lambung. Saat makanan telah
memasuki lambung, otot ini akan berkontraksi menutup lubang sfingter sehingga
makanan tidak kembali lagi ke esofagus.
Lambung
terbagi atas tiga bagian, berturut-turut dari bagian terdepan, yaitu kardiak,
fundus, dan pilorus. Dinding lambung tersusun atas otot yang kuat. Otot
tersebut mengaduk dan mencampur bolus dengan getah lambung yang disekresi oleh
sel-sel kelenjar di dinding lambung. Getah lambung, berperan dalam pencernaan
secara kimia dan terdiri atas asam klorida (HCl), enzim pepsin, serta enzim
renin.
Asam
klorida merupkan asam kuat yang berperan mengubah pepsinogen menjadi pepsin.
Pepsinogen adalah bentuk enzim pepsin yang belum aktif. Selain itu, asam
klorida juga dapat membunuh kuman yang masuk bersama makanan. Asam klorida
menyebabkan pH lambung menjadi rendah (asam) sehingga di lambung tidak ada pencernaan
karbohidrat.
Pepsin
merupakan enzim yang bekerja mencerna protein menjadi polipeptida pendek.
Adapun renin berfungsi mengendapkan protein susu (kasein) dari susu. Tanpa
adanya renin, kasein tidak dapat dicerna sehingga lewat begitu saja.
Pencernaan
kimia di lambung juga dibantu oleh adanya gerakan peristaltik lambung yang
berperan dalam mencampur makanan sehingga pencernaan menjadi lebih optimal.
Makanan yang telah mengalami pencernaan di lambung bercampur dengan getah
lambung dan berubah menjadi semacam bubur yang disebut kim (chyme).
d. Usus Halus (Intestinum)
Dari
lambung, makanan (dalam bentuk kim) akan diteruskan ke dalam usus halus.
Masuknya kim ke usus halus diatur oleh otot sfingter pilorus. Panjang usus
halus pada orang dewasa adalah sekitar 5,5-7 m dengan diameter sekitar 2,5 cm.
Usus halus terdiri atas 3 bagian, yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus
kosong (jejenum), dan usus penyerapan (ileum). Di dalam usus halus terjadi
sebagian besar pencernaan secara kimia karena dari dindingnya disekresi
getah-getah pencernaan. Getah-getah pencernaan tersebut berasal dari pankreas
dan hati.
Hati
juga berperan penting dalam sistem pencernaan makanan. Peranan hati, antara
lain menghasilkan cairan empedu (bilus) untuk mengakumulasikan lemak, mengubah
kelebihan glukosa menjadi glikogen dan menyimpanannya sebagai cadangan energi,
mengubah kelebihan asam amino menjadi urea, menyimpan zat besi dan vitamin
tertentu, serta menawarkan racun dan zat lain yang berbahaya bagi tubuh. Bilus
adalah cairan berwarna hijau kekuningan yang mengandung air, garam-garam
empedu, zat warna empedu (bilirubin dan biliverdin), kolestrol, dan
elektrolit-elektrolit.
Tiga
puluh sentimeter pertama usus halus merupakan usus dua belas jari atau
duodenum. Didalam duodenum bermuara getah-getah pencernaan yang berasal dari
pankreas dan hati. Di dalam duodenum, lemak yang telah diemulsikan ini
selanjutnya akan dicerna oleh enzim lipase, yaitu enzim pencerna lemak, yang
dihasilkan pankreas. Hasil pencernaan lemak adalah asam lemak dan gliserol.
Asam lemak dan gliserol akan diserap aleh pembuluh linfa atau pembuluh kil di
dalam usus halus.
Pankreas
menghasilkan enzim amilase, tripsin, dan kimotripsin. Amilase akan memecah
polisakarida (amilum) menjadi disakarida (maltosa). Tripsin dan kimotripsin
akan mencerna polipeptida (protein) menjadi di peptida. Pankreas juga
menghasilkan natrium bikarbonat (bersifat basa/alkali) yang berfungsi untuk
menetralkan kim dari lambung yang bersifat asam (pH rendah).
Di
dala jejunum juga terjadi pencernaan enzimatis yang merupakan kalanjutan kerja
pencernaan usus dua belas jari yang belum tuntas. Enzim-enzim pencernaannya
dihasilkan oleh dinding jejunum sendiri. Enzim-enzim yang dihasilkan, antara
lain disakaridase(mlatase, laktase, sukrase), aminopeptidase, dipeptidase, dan
enterokinase. Maltase akan memecah maltosa menjadi dua molekul glukosa. Sukrase
memecah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Laktase akan memecah lactosa
menjadi galaktosa dan glukosa. Dipeptidase dan aminopeptidase akan memecah dipeptida
asam amino. Adapun enterokinase berfungsi untuk mengaktifkan tripsinogen
menjadi tripsin.
Di
dalam ileum terjadi penyerapan zat-zat makanan. Zat-zat makanan yang diserap
adalah yang sudah berubah monomer atau molekul sederhana, misalnya glukosa, fruktosa,
galaktosa, asam amino, vitamin, dan beberapa mineral. Semua zat makanan ini
diserap oleh kapiler darah. Sementara itu, asam lemak dan gliserol diangkut
oleh pembuluh limfa.
Pada
permukaan dalam usus halus terdapat banyak sekali lipatan dengan jutaan
tonjolan seperti jari sepanjang 0.02 inchi, yang disebut jonjot (vili). Pada
tiap-tiap sel epitelvili juga terdapat ribuan mikrovili. Adanya vili dan
mikrovili meningkatan luas permukaan usus sekitar 600 kali sehingga
meningkatkan proses absorbsi.
Dinding
usus halus memiliki dua lapis otot polos. Otot tersebut mendorong makanan yang
tidak tercerna masuk ke dalam usus besar dengan gerakan peristaltik lambat.
Seluruh proses yang terjadi di dalam usus halus memakan waktu lebih kurang enam
jam.
e. Usus Besar (Kolon)
Sisa-sisa
pencernaan makanan yang tidak terserap oleh usus halus akan diteruskan ke usus
besar. Usus besar merupakan bagian terakhir saluran pencernaan manusia.
Panjangnya hanya sekitar 1,5-2 m dengan
diameter 5-8 cm. Usus besar terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian yang naik
(askenden), mendatar (transkenden), menurun (deskenden). Pada pertumuan antara
usus halus dan usus besar terdapat usus buntu (sekum) dan umbai cacing
(apendiks). Peranan usus besar cukup penting, yaitu untuk memproses sisa-sisa
makanan agar mudah dikeluarkan. Di dalam usus besar, terdapat banyak sekali
bakteri pembusuk yang akan membusukan sisa-sisa makanan menjadi feses yang
lunak dan mudah dikeluarkan. Beberapa bakteri ini juga diketahui dapat
menghasilkan vitamin K dan asam amino tertentu yang dapat diserap oleh dinding
usus untuk digunakan oleh tubuh. Selain itu, jika tubuh kekurangan air, akan
terjadi reabsorbsi air oleh kolon ini.
f. Rektum dan Anus
Rektum
merupakan bagian akhir dari usus besar. Di dalam rektum sudah tidak terjadi
penyerapan apapun. Rektum merupakan tempat penampungan sementara sisa
pencernaan sebelum dikeluarkan melalui lubang pengeluaran yang disebut anus.
Antara rektum dan anus terdapat dua otot sfingter, yang satu bersifat sadar dan
yang lainnya bersifat tidak sadar. Sekali atau lebih setiap hari, kontraksi
kuat usus besar akan menciptakan dorongan untuk buang hajat (defekasi)
Kelainan atau Gangguan pada Sistem Pencernaan
Sistem
pencernaan makanan manusia tidak selamanya dapat berjalan dengan normal, kadang
kala dapat mengalami gangguan, baik yang disebabkan oleh makanan yang dimakan,
penyakit, ataupun gangguan fisiologis yang dimiliki oleh seseorang. Beberapa
gangguan pada pencernaan makanan yang dapat terjadi pada manusia, antara lain sakit
gigi, sakit maag, apenditis, konstipasi, laktosa intoleran, dan diare.
a.
Sakit gigi
Sisa-sisa
makanan yang melekat pada gigi merupakan tempat yang baik untuk pertumbuhan
bakteri yang dapat merusak gigi. Kerusakan gigi dapat pula terjadi karena
makanan yang terkena panas, terlalu dingin, terlalu manis atau terlalu asam.
Semua itu dapat menyebabkan gigi menjadi keropos dan mudah sakit. Gigi yang
sakit menyebabkan aktivitas mengunyah makanan tidak dapat dilakukan dengan baik
sehingga pencernaan makanan makanan di lambung dan usus juga tidak bisa
dilakukan dengan optimal.
b.
Sakit Maag
Sakit
Maag merupakan sakit yang disebabkan aleh adanya sekresi asam lambung yang
tidak normal pada lambung sehingga mengakibatkan rasa perih pada dingding
lambung. Sakit maag dapat dipicu oleh kebiasaan makan yang tidak teratur, jenis makanan tertentu, obat-obatan atau oleh
adanya stres psikologis. Gejala maag yang sudah kronis dapat menyebabkan luka
pada dinding lambung. Adanya sekresi asam lambung yang mengenai luka pada lambung
menyebabkan rasa perih atau sakit. Sakit maag yang sudah parah dapat
menyebabkan pendarahan pada lambung karena luka yang terjadi sudah sampai pada
lapisan submukosa yang banyak memiliki pembuluh darah.
c.
Apendisitis (radang
usus buntu)
Radang
usus buntu terjadi jika ada sisa-sisa makanan yang masuk kedalam usus buntu,
tepatnya kedalam umbai cacing. Sisa makanan tersebut terjebak dan tidak dapat
keluar dari umbai cacing sehingga lama-kelamaan akan membusuk. Akibatnya,
timbul peradangan pada cacing. Orang-orang yang terkena apendisitis biasanya
harus di operasi untuk membuang umbai cacing yang membusuk tersebut.
d.
Konstipasi
Konstipasi adalah gangguan yang terjadi jika
feces yang terbentuk keras dan kering sehingga sulit dikeluarkan. Hal itu
terjadi karena terlalu banyak air yang direabsorpsi pada saat sisa-sisa makanan
berada di usus besar, yang diakibatkan oleh bahan makanan yang rendah kandungan
seratnya. Jika terjadi secara terus-menerus, konstipasi dapat menimbulkan wasir
atau ambeien.
e.
Laktosa Intoleran
Laktosa
adalah karbohidrat yang ada pada susu. Adapun laktosa intoleran merupakan
gangguan yang ditandai penderita tidak dapat mencerna laktosa karena tidak
tersedianya enzim-enzim pencerna laktosa. Jika itu terjadi, penderita akan
mengalami diare jika minum susu.
f.
Diare
Diare
merupakan gangguan yang sangat umum, ditandai dengan keluarnya feses yang
sangat encer. Diare dapat disebabkan oleh jenis makanan yang dimakan, misalnya
terlalu banyak lemaknya, atau oleh adanya infeksi mikroorganisme menghasilkan toksin
yang menyebabkan gerak peristaltik usus besar berlangsung sangat cepat sehingga
tidak sempat terjadi reabsorpsi air.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar